Memulangkan Anggaran MBG ke Pembangunan Berkelanjutan!
Ada kalanya sebuah negara harus berani mengatakan: program yang baik belum tentu merupakan kebijakan terbaik.
Makan Bergizi Gratis lahir dari niat yang sulit ditolak: memastikan anak-anak Indonesia memperoleh makanan bergizi. Namun dalam pembangunan, niat baik harus diuji oleh hasil, biaya kesempatan, dan kemampuan sebuah program mengubah sistem dalam jangka panjang.
Dengan anggaran ratusan triliun rupiah, pertanyaan kita tidak boleh berhenti pada berapa juta porsi makanan yang dapat dibagikan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
Apakah belanja sebesar itu menghasilkan lompatan pembangunan manusia yang sepadan?
Dalam perspektif System Dynamics, jawabannya tidak cukup dicari pada output. Kita harus melihat feedback loop, time delay, dan opportunity cost.
Jika sebuah program menyerap sumber daya sangat besar tetapi hanya memberikan dampak langsung yang terbatas, sementara sumber daya yang sama sebenarnya dapat memutus mata rantai kemiskinan, gizi buruk, penyakit, pendidikan rendah dan produktivitas rendah, maka desain kebijakannya layak ditinjau kembali.
Bukan karena memberi makan anak salah. Tetapi karena cara terbaik membangun generasi sehat mungkin bukan dengan terus membiayai makanan sebagai program nasional ''berskala raksasa''.
Menghentikan bukan Berarti Meninggalkan
Karena itu, salah satu pilihan kebijakan yang patut dipertimbangkan adalah menghentikan MBG secara bertahap dan mengalihkan anggarannya ke sistem pembangunan manusia yang lebih terintegrasi. Dan apabila benar eksekusi ini dipilih, penghentian harus dilakukan dengan hati-hati. Tidak boleh ada anak yang tiba-tiba kehilangan akses terhadap makanan karena keputusan administratif. Masih bisa dijangkau dengan, katakanlah, masa transisi program selama 12 sd 24 bulan mendatang.
Pada tahap pertama, pemerintah melakukan evaluasi independen terhadap seluruh rantai MBG: manfaat gizi, biaya per penerima, efektivitas distribusi, dampak terhadap pendidikan, ekonomi lokal, serta fiscal opportunity cost.
Pada tahap kedua, cakupan MBG dikurangi secara bertahap, sementara kelompok paling rentan—anak miskin, wilayah dengan prevalensi gizi buruk tinggi, daerah tertinggal dan kelompok dengan risiko kesehatan tertentu—tetap memperoleh perlindungan.
Pada tahap ketiga, anggaran yang dilepaskan dipindahkan secara terukur ke puskesmas, kesehatan ibu dan anak, sanitasi, air bersih, pengendalian penyakit, intervensi gizi berbasis keluarga, pendidikan, serta ketahanan pangan lokal.
Dan tentu, pada tahap akhir, fungsi perlindungan gizi tidak hilang! Ia berubah bentuk. Dari program makanan nasional menjadi sistem perlindungan sosial dan kesehatan yang lebih tepat sasaran!
Mengapa Harus Dialihkan?
Karena pembangunan manusia tidak terjadi hanya ketika makanan sampai ke piring.
Anak membutuhkan makanan yang cukup, tetapi juga membutuhkan air bersih, sanitasi, imunisasi, lingkungan sehat, pendidikan, keluarga yang memiliki pendapatan memadai, serta pelayanan kesehatan primer yang mampu mendeteksi masalah sejak dini.
Inilah yang disebut system intervention. Kita tidak hanya mengobati gejala. Kita mengubah struktur yang menghasilkan gejala. Bayangkan anggaran ratusan triliun itu bekerja pada beberapa titik sekaligus:
Gizi → kesehatan → pendidikan → kualitas SDM → produktivitas → pendapatan → ketahanan keluarga → gizi.
Maka terbentuk reinforcing loop yang jauh lebih kuat.
Sebaliknya, apabila uang terutama berhenti pada konsumsi makanan harian, maka feedback loop pembangunan yang dihasilkan menjadi jauh lebih pendek. Makanan selesai dimakan. Anggaran selesai dibelanjakan. Program selesai dilaporkan. Tetapi apakah struktur kemiskinan dan rendahnya kualitas manusia berubah?
Di situlah pertanyaan kebijakannya. Sampai di sini paham?
Masa Transisi Harus Menjadi Jembatan, Bukan Jurang
Penghentian MBG tidak boleh menjadi kebijakan shock therapy. Masa transisi harus digunakan untuk membangun sistem penggantinya. Sekolah tetap menjadi titik intervensi, tetapi bukan semata-mata sebagai tempat distribusi makanan.
Sekolah dapat menjadi pusat deteksi gizi, edukasi kesehatan, imunisasi, pemantauan tumbuh kembang dan pendidikan pangan. Puskesmas diperkuat untuk menangani anak dan keluarga berisiko. Bantuan sosial diarahkan lebih presisi kepada keluarga yang benar-benar membutuhkan. Sementara produksi pangan lokal diperkuat agar kebijakan gizi sekaligus menjadi kebijakan ekonomi.
Dengan demikian, uang negara tidak benar-benar “hilang” dari sektor gizi. Uang itu dipulangkan ke ekosistem pembangunan yang lebih luas!
Yang dihentikan adalah Modelnya, bukan Tujuannya
Ini yang harus ditegaskan. Menghentikan MBG tidak berarti negara berhenti peduli pada gizi anak.
Justru sebaliknya. Negara harus beralih dari universal feeding menuju targeted human development intervention.
Dari memberi makan semua orang menuju memastikan tidak ada anak yang kekurangan gizi. Dari spending menuju investment.
Dari program sektoral menuju integrated development. Dari menghitung porsi makanan menuju mengukur perubahan kualitas manusia.
Itulah cara berpikir yang lebih dekat dengan pembangunan berkelanjutan.
Keberanian Terbesar: Mengoreksi!
Dalam pemerintahan, menghentikan sebuah program sering dianggap sebagai kegagalan. Padahal tidak selalu demikian. Mengoreksi kebijakan ketika bukti menunjukkan desainnya tidak optimal justru merupakan tanda bahwa negara belajar.
Program boleh dihentikan namun tujuan pembangunan tidak boleh dihentikan.
Jika MBG ternyata bukan instrumen paling efektif untuk mengubah kualitas gizi dan kualitas manusia secara jangka panjang, maka menghentikannya secara terukur bukanlah kemunduran.
Ia adalah realokasi menuju kebijakan yang lebih produktif.
Dan di sinilah negara perlu berani mengambil keputusan yang kadang tidak populer: bukan mempertahankan program karena sudah berjalan, tetapi mempertahankan tujuan karena memang penting.
Ratusan triliun rupiah adalah uang rakyat. Ia tidak boleh sekadar menghasilkan piring yang kosong kembali setelah makan siang. Ia harus menghasilkan manusia yang lebih sehat, lebih cerdas, lebih produktif, dan lebih mampu membangun kehidupannya sendiri.
Kalau sebuah program tidak mampu menghasilkan lingkaran pembangunan itu, maka yang perlu dihentikan bukan cita-citanya! Yang perlu dihentikan adalah cara lama mencapainya. Dan mungkin di situlah makna sebenarnya dari System Dynamics.
Mengubah sistem hari ini. Agar generasi berikutnya tidak terus membayar kesalahan sistem. Yang, kita biarkan (dengan keras kepala) - tetap hidup sampai hari ini!
BACA 3 TAHUN LAGI!
Salam,
DS pernah belajar arsitektur pembangunan. Sekolah tersebut mengeluarkan ijazah.😆
4111 301143340 080926
Diungkapkan dengan lemah-lembut dan kesadaran penuh.
