Jika ''PANDJI'' Lenyap Dari Dunia



Pertunjukan seni kontemporer selalu lahir dari kegelisahan, bukan dari kalender acara. Ia datang ketika publik terlalu lama diam dan kata-kata kehilangan keberanian. Komedi, dalam situasi semacam itu, berhenti menjadi sekadar hiburan.
Ia berubah menjadi alat bongkar. Maka ''Mens Rea'' yang kini kita ributkan itu, menemukan tempatnya bukan di gedung pertunjukan lagi. Tapi di ruang publik yang penat oleh kekonyolan yang melembaga.
Di panggung itu, Pandji tidak (hanya) sedang melucu. Tapi ia dengan gembira menunjuk. Menyebut. Menguliti. Hal-hal yang selama ini dianggap tabu, dan karenanya disembunyikan rapi—meletup begitu saja dari mulutnya.
Ya, aneh memang, negeri ini baru merasa jujur ketika ditertawakan. Barangkali benar, seperti kutipan pidato Presiden Prabowo yang bangga dan sekaligus heran kita menjadi bangsa yang disebut dunia..“paling bahagia”.
Betul memang pak. Penderitaan ini membahagiakan. Dan dalam kerangka tontonan lucu itu, kita bahagia karena bisul yang lama dipendam, toh akhirnya pecah juga.
Sampai di sini.. Tabir ditutup. Lampu dinyalakan. Penonton bubar.
Sepi dong.. (sebelum ada team komunikasi mengutus 2 orang manusia melapor ke Polisi, dan tujuannya tercapai, bikin gaduh!)
Bukan itu, bukan! Tapi justru ketika panggung usai, di situlah pertunjukan mulai bekerja. Cerita panggung itu hidup di kepala orang-orang yang telanjur terbangun. Dibaca ulang di media sosial, di warung kopi, di obrolan setengah berbisik.
Ruang publik yang semula jumud tiba-tiba gaduh oleh kesadaran baru: bahwa ada sesuatu yang selama ini salah, dan kita terlalu lama berpura-pura tak tahu.
Di tengah gaung itu, ada satu bagian yang tak meledak, tapi justru mengendap. ''Epilog''. (Yang patut diacungin 10 jempol, menurut pemahaman saya..).
Di sana Pandji berhenti menunjuk ke luar, lalu menunduk ke dalam. Ia mengutip sebuah buku Jepang yang bertepatan beberapa waktu lalu saya baca. Isinya sederhana, nyaris senyap. Judulnya lucu, ''Jika Kucing Lenyap dari Dunia'', karya Genki Kawamura.
Buku yang tak berteriak, tak menggurui, tapi memeluk pembacanya dengan pertanyaan yang pelan dan kejam sekaligus.
Dikisahkan tentang seorang lelaki pengidap sakit berat, yang hendak mati. Seorang lelaki biasa, dengan hidup yang juga biasa. Ia didatangi setan—bukan setan mitologis, melainkan setan modern yang rapi, sopan, dan sangat rasional.
Setan itu menawarkan ''perpanjangan hidup'' dengan satu permainan, ''Aku tambahkan sehari untuk satu hal pentingmu lenyap dari dunia!''. Semacam tukar guling. Well, wajar dong, untuk the betterment..alasannya. Untuk dunia yang akan menjadi makin efisien. Makin bersih dan makin leluasa untuk Tuan Berkuasa.
Remuk hati Si Pria karena nanti akan sampai ke apa-apa yang dicintainya. Dan tentu, yang bakal hilang bukan hanya benda semata, tapi sejatinya juga..makna.
Hingga akhirnya kucing —makhluk tak produktif, tak fungsional, tak menyumbang pertumbuhan ekonomi, namun teman satu-satunya yang setia menjadi taruhan terakhir. Lelaki itu menyerah, demi yang dicintainya!
---
Dan, di situlah buku ini mengingatkan kita. Bahwa yang paling berharga dalam hidup justru sering kali adalah yang paling diam, paling tak berguna menurut ''logika yang berkuasa''.
Ketika Pandji mengutip buku itu di epilog, detak jantung ini superti sejenak terhenti. Ada perasaan lain menyeruak. Pandji jelas tak sedang membahas sastra semata. Tapi ia di situ sedang berbicara, berpesan sangat dalam sebagai seorang ayah. Seolah mewakili kita semua.
Ia menyampaikan pesan kepada anak-anaknya —kepada generasi yang akan datang setelah kita selesai bertengkar, selesai berteriak, selesai merusak!
Generasi yang kelak akan mewarisi Indonesia dalam format yang belum (begitu) jelas: apakah masih berjiwa, atau sekadar berfungsi.
Pesan itu.. tetiba mengalir lembut, hampir seperti permintaan maaf. Baiklah Nak, mungkin aku tak akan kuasa, dan akan berlepas tangan. Karenanya, aku meminta maaf pada kalian. Namun ya, satu pesanku, jangan menunggu sesuatu lenyap untuk menyadari nilainya!
Getaran ini mengutip permintaan. Jangan menukar cinta, empati, dan keberanian berpikir demi umur yang sedikit lebih panjang dalam dunia yang akhirnya, tanpa makna.
Sejenak (sebelum riuhnya tepukan) kelembutan epilog itu mengalir dan membekap, lalu baru terasa memukul.
Di negeri yang terbiasa mematikan rasa demi stabilitas, kutipan itu seperti angin segar yang datang dari luka lama. Ia mengingatkan kita bahwa kejumudan publik bukan terjadi karena kurang hiburan, melainkan karena terlalu banyak hal berharga yang sengaja dihapus. Dilenyapkan!
Kita hidup dalam naungan kuasa -sebagai bangsa, yang (mungkin) keji. Betapa gemar menyingkirkan makhluk lucu, yang kita cintai!
Lihat saja..
Anak muda yang kritis dianggap berisik.
Hati yang bening dicurigai.
Kejujuran diperlakukan sebagai ancaman.
Semuanya ditukar demi ''satu hari tambahan'' bagi kekuasaan yang aneh.
Mengingat buku itu, dan ingarbingar keributan usai panggung ditutup. Kulihat-lihat lagi sampul buku.. Atau mungkin pantasnya bukan ''Jika Kucing Lenyap dari Dunia''.
Mungkin juga, ''Jika Pandji Lenyap dari Dunia!''
Kalau begitu? Satu makhluk yang (dengan rendah hatinya menyebut diri tak bernilai tukar), LENYAP SEKETIKA. 
Udah puas?.. 
Lalu, apa yang tersisa dari kita sesudah Pandji-pandji itu mati.
Ini hanya komedi. Aku minta kalian tertawa, terhibur. Itu saja kok. Tapi sindiran itu sampai. Ya, siapa yang berani bicara ketika komedi kembali dibungkam oleh kesopanan palsu?
Dan di titik inilah epilog itu berhenti menjadi sastra, lalu berubah jadi tuduhan!
Dan dengarlah kalian semua bajingan yang terhormat.
Sadar nggak sih, bangsa ini telah terlalu sering ''membunuh'' anak-anak mudanya sendiri. Bukan dengan senjata, tapi dengan sengkarut jiwa yang maruk dipertontonkan harian.
Mungkin juga tak dengan kekerasan (terbuka), tapi dengan pembiaran!
Satu per satu, yang jujur dipatahkan.
Yang berani disingkirkan.
Dan ketika semua itu dilakukan dengan sadar, terencana, dan terus diulang, kita tak lagi bisa sembunyi di balik seribu alasan.
Kita ini siapa.
Kita bukan korban.
Kita ini pelaku, Bajingan!
Dan karena itu,
kita bukan sekadar penonton pertunjukan.
Kita sudah bermetamorfose, menjadi wakil setan itu sendiri
Atau Iblis.
Tuan Bangsat!😡

Sekian.
DS

(Biar saja menangis!)
12012025 411 1
Baca Juga
Berbagi
Suka dengan artikel ini? Ajak temanmu membaca :D
Posting Komentar